Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik baku tembak hari ini, 3 Februari 2026, ketika sebuah jet siluman F-35C Lightning II Angkatan Laut AS mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat tak berawak Iran (UAV) yang mengancam langsung kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72). Insiden itu menandai eskalasi signifikan dalam perang bayangan maritim yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.
Pertempuran itu terjadi Selasa dini hari saat USS Abraham Lincoln melintasi perairan internasional di Laut Arab, sekitar 500 miles (800 kilometres) dari pantai selatan Iran. Menurut U.S. Central Command (CENTCOM), sebuah drone Shahed-139 Iran yang canggih, platform MALE (medium-altitude, long-endurance) yang baru-baru ini dipamerkan oleh Teheran, terdeteksi pada jalur terbang berkecepatan tinggi yang agresif menuju supercarrier bertenaga nuklir itu.
Meskipun kelompok serang beberapa kali berupaya mengusir pesawat itu melalui jalur de-eskalasi yang sudah ada, drone tersebut tetap pada jalur intercept, memaksa lepas landas darurat sebuah jet siluman generasi kelima dari Marine Fighter Attack Squadron (VMFA) 314, yang saat ini bertugas di atas Lincoln.

{{AD}}
Respons Tegas dalam Pembelaan Diri
Penembakan jatuh itu digambarkan oleh pejabat militer sebagai tindakan yang diperlukan untuk menjamin keselamatan ribuan pelaut dan penerbang di kapal induk.
“Drone itu, Shahed-139, 'mendekat secara agresif' ke Lincoln dengan niat yang tidak jelas,” kata Kapten Tim Hawkins, juru bicara U.S. Central Command. “Drone Iran itu terus terbang menuju kapal meskipun langkah-langkah de-eskalasi yang diambil oleh pasukan AS yang beroperasi di perairan internasional.”
Kapten Hawkins menegaskan bahwa F-35C pada akhirnya “menembak jatuh drone Iran itu untuk membela diri dan melindungi kapal induk serta personel di atasnya.” Tidak ada tentara Amerika yang terluka, dan tidak ada peralatan AS yang rusak selama bentrokan singkat itu.
Konteks Taktis dan Ketegangan Regional
Penghancuran Shahed-139 bukanlah peristiwa yang terisolasi. Beberapa jam kemudian, USS McFaul (DDG 74) terpaksa turun tangan di Selat Hormuz ketika dua kapal cepat IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mengganggu M/V Stena Imperative, sebuah tanker dagang berbendera dan berawak AS.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menanggapi peristiwa hari itu dalam sebuah pengarahan, mencatat bahwa CENTCOM bertindak “secara tepat dan perlu” atas arahan Presiden.
“Jadi, CENTCOM memang membuat keputusan untuk menembak jatuh drone Iran itu. Drone itu tak berawak; ia bertindak agresif terhadap USS Lincoln kami, yang kami ketahui berada di kawasan ini -- atas arahan Presiden Trump,” kata Leavitt, menambahkan bahwa meskipun AS tetap membuka diri untuk diplomasi, “itu butuh dua pihak.”

Foto: Military Factory
{{AD}}
Shahed-139
Analis dirgantara menggambarkan Shahed-139 sebagai lompatan signifikan dalam teknologi drone Iran. Secara visual mirip dengan MQ-1 Predator buatan AS, drone ini memiliki baling-baling pendorong yang dipasang di bagian belakang dan diyakini mampu membawa muatan hingga empat rudal berpemandu presisi.
| Fitur | Rincian Keterlibatan 3 Februari |
|---|---|
| Pesawat Interseptor | Lockheed Martin F-35C Lightning II (VMFA-314) |
| Drone Sasaran | Iranian Shahed-139 (MALE UAV) |
| Lokasi | Laut Arab (kira-kira 500 miles dari pantai Iran) |
| Kelompok Serang | Carrier Strike Group 3 (USS Abraham Lincoln) |
| Hasil | Sasaran hancur; tidak ada korban AS |
| Sistem Senjata | Tidak diungkapkan (Kemungkinan AIM-9X atau 25mm Gun Pod) |
{{REC}}
Pertaruhan Geopolitik
Insiden itu terjadi pada saat yang sensitif bagi pemerintahan Trump, yang telah mengembalikan kebijakan "maximum pressure" terhadap Teheran setelah kerusuhan dalam negeri di Iran bulan lalu. Meski terjadi bentrokan militer, laporan menunjukkan bahwa pejabat Amerika dan Iran masih dijadwalkan bertemu di Ankara Jumat ini untuk pembicaraan tingkat tinggi mengenai program nuklir Iran.
Namun, seperti yang diperingatkan Presiden Trump awal pekan ini, “hal buruk akan terjadi” jika kesepakatan tidak dapat dicapai sementara grup kapal induk AS tetap berada di lokasi. Untuk saat ini, Abraham Lincoln melanjutkan patrolnya dengan peningkatan tempo combat air patrol (CAP), siap merespons provokasi lebih lanjut di Laut Arab yang mudah meletup.
Comments (0)
Add Your Comment
SHARE
TAGS
CERITA F35C Udara Ke Udara Drone US Navy Aviasi MiliterRECENTLY PUBLISHED
Kecelakaan Keamanan Jill Biden Saat Agen Menembak Diri Sendiri di Landasan Philly
Protokol keamanan Philadelphia International Airport (PHL) diuji pagi ini setelah terjadi penembakan tidak sengaja yang melibatkan seorang anggota detail perlindungan Ibu Negara.
Berita
READ MORE »
Pencarian Meningkat untuk Anggota Kru American Airlines yang Hilang di Medellín
Otoritas di Kolombia berlomba melawan waktu untuk menemukan Eric Fernando Gutiérrez Molina, seorang pramugara American Airlines berusia 32 tahun yang menghilang saat singgah rutin di Medellín.
Berita
READ MORE »
Penantian 53 Tahun Berakhir untuk Perjalanan Udara Supersonik
Washington secara resmi membungkam gema tahun 1973 saat Amerika Serikat memasuki era baru penerbangan berkecepatan tinggi.
Berita
READ MORE »